Ketika Tuhanpun Sakit

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepada-Ku” (Qs. 51: 56).

Kita, umat manusia, sebagaimana ditegaskan dalam ayat diatas diciptakan oleh Allah di dunia ini tidak lain adalah dengan tujuan untuk mengabdi, menyembah dan beribadah kepada Allah semata.

Makna pengabdian dan ibadah dalam ajaran Islam sama sekali tidak terbatas pada bentuk-bentuk kegiatan ritual an sich. Bukan pula hanya sekedar formula spiritual-individual, seperti sholat, puasa, atau dzikir saja. Namun dalam Islam ibadah dengan begitu indah diartikan sebagai sebuah kesatuan integral antara kemestian ibadah ritual-individual yang mengatur hubungan transendental manusia dengan Rabb-nya bersamaan dengan penekanan aspek-aspek ibadah sosial, sebagai aturan hubungan antar sesama manusia. Inilah penghambaan mutlak, sebagaimana dalam firman Allah (Qs.6:162),”Katakanlah, bahwa sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam”.

Dengan demikian seseorang belum bisa disebut “muslim”jika masih membatasi diri dalam kesalehan individual belaka, sebelum harus juga saleh dalam tataran praktek-praktek kehidupan sosial. Maka dari itu ketika suatu kali disampaikan kepada Rasulullah SAW perihal seorang wanita yang selalu sholat di malam hari dan puasa di siang harinya, tetapi bermoral sosial buruk, yakni sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya Nabi menjawab,” Tidak ada kebaikan padanya dan ia dineraka”.

Lebih dari itu terdapat sebuah hadits yang perlu kita renungkan, yang menggambarkan betapa erat kaitan nilai-nilai sosial dengan Tuhan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla akan mengatakan kelak di hari Kiamat: Wahai anak-anak Adam, Aku pernah sakit tetapi engkau tidak pernah menjenguk-Ku. Kata anak Adam: Duhai Tuhanku, bagaimana hamba datang menjenguk-Mu, padahal Engkau Tuhan sekalian alam. Kata Tuhan: Tidakkah engkau tahu, seorang hamba-Ku si Fulan sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya. Tidakkah engkau tahu, seandainya kamu menjenguknya, pasti engkau dapati Aku disisinya. Hai anak Adam, pernah Aku minta makan kepadamu, tapi tiada engkau beri Aku makanan. Kata anak Adam pula: Duhai Tuhanku, betapakah hamba harus memberi-Mu makanan, padahal Engkau Tuhan sekalian alam. Kata Tuhan pula: bukankah kau tahu bahwa seorang hamba-Ku si Fulan memintamu makanan, tapi tidak juga kau beri makanan. Bukankah pula engkau tahu bahwa jika engkau beri dia makanan, pasti engkau dapatkan (pahala) makanan tadi di sisi-Ku”(HR. Muslim dalam Shahih-nya).

Dari riwayat hadits diatas tampak sekali betapa signifikan dan pentingnya posisi nilai-nilai sosial dalam Islam. Untuk itu sebagai Muslim, kita tidak boleh mengabaikannya. Sudah semestinya kita selalu berusaha menyadari dan mengembangkannya, apalagi disaat banyak musibah dan penderitaan menimpa saudara-saudara kita. Disaat banyak orang membutuhkan uluran tangan kita. Masing-masing perlu meningkatkan sense of solidarity, membangun rasa kepedulian terhadap sesama, dan menyadari bahwa semua adalah saudara, sehingga bisa diibaratkan satu tubuh. Dimana jika ada satu anggota tubuh sakit, anggota yang lain akan ikut merasakannya.

Wa billahi at taufiq wa al hidayah.

Senin, 10 J. Ahirah 1423/ 19 Agustus 2002

Muhamad Sahrul Murajjab

0 Responses to “Ketika Tuhanpun Sakit”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: