Ibn Taymiyyah & Ideology of Terror

Oleh: Muhamad Sahrul Murajjab

Pernah dimuat di Majalah Sabili No. 6 Th.XVII, 08 Okt 2009/19 Syawal 1430

dengan judul ” Ibn Taimiyyah: Ulama Mujahid yang Pemaaf”

Terorisme, kini kembali menjadi buah bibir. Sesuai “tradisi” yang telah berlangsung sekitar satu dekade terakhir, umat Islam lagi-lagi dijadikan ‘santapan empuk’ opini yang berkembang semakin liar! Di Indonesia, dunia pesantren pun disorot dengan pandangan tajam penuh kecurigaan. Kegiatan dakwah di bulan Ramadan yang suci ini bahkan sempat terdengar santer akan diawasi aparat. Beberapa nama tokoh pembaharu Islam masa lalu juga kembali disebut-sebut sebagai pihak yang ikut bertanggung jawab dibalik penyebaran “fundamentalisme” dan “radikalisme”, dua kata yang kemudian dijodohkan dengan istilah “terorisme”.

Istilah fundamentalisme dan radikalisme Islam itu sendiri sebenarnya merupakan stereotype yang diciptakan Barat untuk menunjuk kalangan umat Islam yang berusaha untuk kaaffah dalam menjalankan agamanya, berupaya teguh berpegang pada al-Qur’an dan Sunnah, serta tidak “nurut” dan  susah diajak berompromi dengan mereka, yang pada akhirnya kemudian dikesankan reaktif, emosional dan tidak toleran.

Kini, opini publik sedikit demi sedkit mulai dipaksa dan diarahkan untuk mengasosiasikan radikalisme maupun terorisme kepada seorang ulama besar yang menyandang gelar Syaikhul Islam; Ibnu Taimiyyah al-Dimasyqi rahimahullah. Meski sebenarnya, hal ini bukan hal yang baru memang. Sekedar menyebut contoh, Andrian Morgan, seorang penulis asal Inggris, pernah mengatakan Ibn Taimiyyah sebagai the real godfather of islamic fundamentalism yang memberi inspirasi bagi tokoh-tokoh pembaharuan yang datang sesudahnya seperti Muhamad ibn Abdul Wahab, Sayyid Qutb dan Abul A’la al-Maududi yang juga disebutnya sebagai ekstremis. Hampir senada, Monte Palmer dan Princess Palmer, penulis buku At the Heart of Terror: Islam, Jihadist and America’s War on Terrorism (terbit tahun 2007), menyebutkan bahwa hampir semua akar gerakan ekstrimisme muslim modern dapat dilacak jejak-jejak kakinya kepada pemikiran Ibn Taimiyah.

Tuduhan ini tentu perlu diluruskan. Toh, jika seandainya benar bahwa para pelaku terorisme yang muncul belakangan disebut-sebut sebagai pembaca buku-buku Ibn Taimiyah dan sering mengutip fatwa-fatwanya, tidak lantas menjadi absah untuk menyimpulkan bahwa Ibn Taimiyyah adalah sumber ideology of terror. Secara metodologis cara berfikir seperti itu layak dipertanyakan, terlebih lagi jika kemudian mengabaikan faktor politik dan sosiologis yang menjadi variabel utama munculnya terorisme.

Sosok Ibn Taimiyyah, jika referensi karya-karya beliau ditengok secara lebih baik, akan diketahui bagaimana kehati-hatian ulama yang banyak dipuji baik oleh kawan maupun lawannya ini dalam mengkafirkan sesama muslim. Bahkan selain terkenal dengan keteguhan dalam mempertahankan prinsip dan ghirahnya yang meluap terhadap Islam, Ibn Taimiyyah juga diketahui sebagai sosok pribadi yang lembut, rendah hati, toleran dan lebar dada. Dalam berbagai kasus yang menimpanya, oleh sejarah dibuktikan bahwa Ibn Taimiyyah merupakan seorang ulama mujahid yang pemaaf dan bukan tipe pendendam terhadap musuh-musuh yang mendzaliminya, persis seperti perkataan Ibn Taimiyyah sendiri dalam salah satu fatwanya, “Aku telah melapangkan dadaku bagi siapapun yang berselisih denganku. Biarlah! Jika dia melanggar batasan-batasan Allah dengan mengkafirkanku, menyatakan diriku fasik, atau membuat kedustaan dan berlaku fanatik buta, maka aku tidak akan melanggar aturan-aturan Allah terhadapnya.” (lihat: Majmū’ al-Fatāwā:3/245).

Pada kesempatan lain beliau juga menyatakan, “…sesungguhnya aku telah menghalalkan/merelakan (kesalahan) setiap muslim (terhadapku), aku menghendaki kebaikan bagi setiap orang Islam, aku juga mencintai kebaikan bagi saudaraku sebagaimana aku mencintainya untuk diriku sendiri. Dan bagi orang-orang yang telah melakukan kebohongan serta aniaya terhadapku, aku telah maafkannya.” (Majmū’ al-Fatāwā: 28/55).

Kelembutan hati Ibn Taimiyyah ternyata juga tidak terbatas kepada saudara-saudaranya yang seagama. Suatu ketika, beliau melakukan kesepakatan dengan pemimpin pasukan Mongol untuk melepaskan tahanan yang ditangkap di Baitul Maqdis. Pemimpin Mongol waktu itu bersedia melepaskan para tahanan kecuali mereka yang bukan Muslim, karena dianggap tidak termasuk dalam kesepakatan. Mengetahui hal ini Ibn Taimiyyah pun menolak untuk menyetujui tindakan itu dan menuntut pembebasan mereka semua tanpa kecuali seraya mengatakan kepadanya, “Hendaknya kau bebaskan semuanya termasuk mereka yang berasal dari kalangan Yahudi dan Nasrani, karena mereka adalah juga dalam perlindungan (ahl dzimmah) kami.”

Sifat-sifat luhur Ibn Taimiyyah yang toleran dan pemaaf, namun justru seringkali dilupakan oleh kebanyakan orang ini, telah dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Ibn Taimiyyah wa al-Ākhar (Ibnu Taimiyyah dan Orang Lain) oleh Syaikh `Aidh ibn Sa’ad al-Dosari dan diterbitkan di Doha, Qatar tahun 2007.

Lantas siapakah dan bagaimanakah sebenarnya figur seorang Ibn Taimiyah?.

Ibn Taimiyyah: Biografi Singkat  dan Perjuangannya

Ibn Taimiyyah merupakan seorang tokoh besar dalam sejarah Islam yang telah menghabiskan waktunya untuk membela Islam, mengajarkan ilmu, berjihad dan berijtihad. Wawasan keilmuannya sangat luas mencakup berbagai disiplin ilmu seperti tafsir, hadits, fiqh, teologi bahkan juga filsafat dan tasawuf. Tak heran warisan buku-bukunya sangat berlimpah dan konon menurut catatan para muridnya mencapai 300 sampai 500 judul buku.

Beliau memiliki nama lengkap Taqiyuddin Abu al-‘Abbas Ahmad ibn Abdul Halīm ibn Abdul Salām ibn Abdullāh ibn Abul Qasim Al-Khidlr ibn Muhamad ibn Taimiyyah. Dilahirkan pada tanggal 10 Rabi’ul Awwal 661H/1263M di Harran, kini provinsi Sanliurfa di tenggara Turki, dekat dengan perbatasan Syria. Akibat serangan Mongol ke wilayah itu, Ibn Taymiyyah kecil harus mengungsi bersama keluarganya ke Damaskus saat berusia 7 tahun.

Ibn Taimiyyah lahir dan tumbuh di tengah kondisi umat Islam yang carut marut dan mengalami kemunduran baik secara politis, sosial, keilmuan maupun keagamaan. Sekitar 5 tahun sebelum beliau dilahirkan, tepatnya Januari 1258, Baghdad yang menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah jatuh ke tangan bangsa Mongol. Pasukan Salib yang datang dari daratan Eropa juga telah menguasai sejumlah wilayah umat Islam. Kaum muslimin sendiri pada masa itu secara umum mengalami keterbelakangan, banyak meninggalan ajaran agama yang benar atau mencampur adukkannya dengan berbagai unsur yang terinfiltrasi dari luar Islam, serta diwarnai fanatisme buta.

Namun dalam sebuah keluarga yang taat menjalankan ajaran agama dan memiliki tradisi keilmuan sangat kuat, Ibn Taimiyah telah berhasil membentuk karakternya yang mulia dan intelektualitasnya yang mengagumkan. Kakeknya, Abu al-Barakat Majduddin ibn Taimiyyah merupakan seorang ulama dalam fiqh Hambali yang diperhitungkan. Salah satu karyanya, kumpulan hadits-hadits hukum Muntaqā al-Akhbār, kemudian menjadi terkenal bersama syarah (penjelasan)-nya Nail al-Authār yang ditulis oleh ‘Ali Al-Syaukāni. Ayah Ibn Taimiyyah sendiri, Syaikh Abdul Halim Syihabuddin merupakan seorang pengajar di Masjid Umayyah Damaskus sekaligus “direktur” di sekolah Dar al-Hadits al Sukkariyah.

Semenjak kecil Taqiyudin Ibn Taimiyyah dikenal sangat cerdas dan telah mampu menghapal  al-Quran saat masih berusia sangat muda. Sebelum berusia 20 tahun, beliau sudah mendapat otoritas untuk mengeluarkan fatwa. Sepeninggal ayahnya, menginjak usianya yang ke-21, Ibn Taimiyyah menggantikan sang ayah mengajar ilmu Hadits dan Fiqh di Darul Hadits al-Sukkāriyah dan setahun kemudian mulai mengajar ilmu tafsir di Masjid Agung Umayyah. Pada akhir tahun 691 /November 1292, Ibn Taimiyah pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji dan kembali ke Damaskus tahun 692/Februari 1293.

Karena pembelaan dan kecintaannya kepada Islam, riwayat hidup Ibn Taimiyyah dijalani penuh perjuangan, jihad, fitnah, dan tekanan. Pada tahun 693/1293, Ibn Taimiyyah dijebloskan ke penjara untuk pertama kalinya karena sikap dan fatwanya yang cukup keras terhadap seorang Nasrani bernama `Assāf yang telah menghina dan melecehkan Rasulullah SAW. Karena kedekatan Assāf dengan kalangan keluarga penguasa, pembelaannya terhadap Rasulullah tersebut justru meghantarkannya ke penjara.. Di dalam penjara itulah Ibn Taimiyyah menulis salah bukunya yang terkenal, Al-Shārim al-Maslūl ‘ala Syātim al-Rasul (Pedang Terhunus untuk Penghina Rasul).

Menurut sejarah, sepanjang hayatnya Ibn Taimiyyah pernah dipenjara sebanyak tujuh kali, tiga kali diantaranya di Damaskus, Syiria dan selebihnya di Mesir (Kairo maupun Alexandria). Hampir semua kasus yang mengakibatkannya dijebloskan ke penjara, adalah keteguhannya memegang prinsip kebenaran  serta karena kedengkian dan makar para ‘musuh’ polemiknya yang didukung oleh penguasa saat itu. Tetapi Ibn Taimiyyah menjalani cobaan itu semua dengan jiwa besar dan ketegaran luar biasa. Sebagaimana banyak dinukil para penulis biografi beliau, Ibn Taimiyyah senantiasa menyatakan, “Apa yang bisa dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Surga (ketenangan dan kedamaian)-ku berada dalam dadaku dan akan terus bersamaku tak terpisahkan kemanapun aku melangkah. Bagiku, penjara adalah tempatku untuk menyendiri dan berkontemplasi. Jika aku dibunuh maka itu adalah syahadah dan jika aku diasingkan maka itu adalah kesempatan bagiku untuk melakukan perjalanan jauh”.  Tentang filosofi penjara ini, sebagaimana dinukil oleh muridnya Ibn Al-Qayyim dalam Al-Wabil al-Shayyib, Ibn Taimiyyah mengatakan, ”Seseorang yang sesungguhnya terpenjara adalah dia yang hatinya terpenjara dari Allah serta keinginannya diperbudak oleh hawa nafsunya.

Ibn Taimiyyah juga banyak mengisi hidupnya dengan jihad baik dengan ilmu (bil lisan wa al-qalam) maupun terjun langsung ke medan tempur. Selama masa-masa invasi  tentara Mongol ke Damaskus antara tahun 1299 sampai 1303 M, Ibn Taymiyah terus menerus mengobarkan semangat jihad di dada kaum muslimin dengan fatwa-fatwa dan ceramahnya. Pada masa kekuasaan Sultan Al-Malik al-Mansur Lājīn (696-698/1297-1299) beliau ditunjuk oleh Sultan untuk ikut serta sekaligus sebagai pembina moral dan pengobar semangat keimanan pasukan jihad yang dikirim dalam perang melawan pasukan Kerajaan Armenia Kecil.

Ibn Taimiyah juga pernah menjadi juru bicara delegasi para ulama yang datang menghadap pemimpin pasukan Mongol Il-Khan Ghazan untuk menyampaikan penolakan kehadiran mereka di Damaskus. Bulan Ramadlan tahun 702H/1303M, dalam sebuah invasi pasukan Mongol, Ibn Taimiyyah ikut berperang dalam pertempuran yang dikenal dengan Perang Syaqhab, dimana beliau saat itu memfatwakan dibolehkannya berbuka selama perang berkecamuk.

Di luar masa-masa perang dan waktu dipenjara, Ibn Taimiyyah memanfaatkan usianya untuk menulis buku-buku dan mengajarkan ilmunya, serta mencetak kader-kader yang kemudian menjadi ulama kenamaan seperti Ibn Qayyim al-Jawzīyah (w.1350), Al-Hafidz al-Dzahabi (w. 1348) dan Ibn Katsir (w.1372).

Pembaharuan dan Pemikiran Ibn Taimiyah

Ibn Taimiyyah sangat menaruh perhatian dan keprihatinan sangat besar terhadap kondisi umat Islam saat itu. Dengan menggunakan timbangan naql (wahyu) dan akal, serta teladan salaf al-salih beliau menyimpulkan bahwa umat Islam telah menyimpang dari karakter aslinya, sehingga mengalami kemunduran, keterbelakangan dan tunduk kepada bangsa lain. Dari situ beliau memulai proyek pembaharuannya yang komprehensif dengan mencontoh prinsip Imam Malik ibn Anas (w. 179 H/ 795M) bahwa “generasi umat Islam masa kini tidak akan pernah berhasil dan menjadi unggul kecuali dengan apa yang menjadikan generasi pertama umat Islam menjadi berhasil dan unggul.”

Menyadari sentralitas konsep Tauhid dalam sistem bangunan Islam, Ibn Taimiyah mengerahkan upaya terbesarnya untuk memurnikan akidah Islam dari kesyirikan dan infiltrasi berbagai unsur luar seperti filsafat Hellenis-Yunani, mistisisme, paham hulul (inkarnasi), wahdat al-Wujud (pantheisme-monisme) dan fatalisme (jabariyah).

Ibn Taimiyyah berupaya kuat untuk membangun kembali hubungan antara realitas dan problem umat dengan sumber-sumber Islam yang murni, serta membangun kesadaran tugas hidup manusia dan misinya di dunia dengan jihad dan ijtihad (menggunakan akal sehatnya secara benar dan optimal). Maka dari itu, meski Ibn Taimiyyah sangat ketat dalam berpegang kepada Al-Qur’an dan Sunnah, beliau juga menggunakan qiyās (analogical reasoning) dan argumentasi kemaslahatan (al-mashlahah) dalam pemikirannya. Tentunya, hal itu tetap dalam koridor rambu-rambu dua sumber utama di atas. Menurut beliau, hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah-lah kaum muslimin dapat kembali bersatu dan tidak terpecah belah.

Dalam masalah ibadah, Ibn Taimiyyah menegaskan bahwa manusia tidak membutuhkan perantara untuk bisa berkomunikasi dengan Allah. Beliau juga berjuang keras untuk membersihkan cara-cara beragama yang dipenuhi dengan bid’ah. Seorang muslim menurutnya tidak harus tunduk kepada satu madzhab dan pendapat golongan tertentu, jika didapati bertentangan dengan teks-teks otentik dari al-Qur`an maupun Sunnah.

Tasawuf  tidak selamanya ditolak dan digeneralisasi oleh Ibn Taimiyyah. Yang beliau tentang adalah berbagai bentuk penyimpangan yang telah merasuk ke dalam tubuh tasawuf, seperti dilakukan oleh Al-Hallaj dan Ibn ‘Arabi, atau keyakinan yang justru mendorong seorang muslim menjadi lemah dan fatalistik. Maka dari itu, meskipun banyak kritikan pedas yang beliau lontarkan terhadap tasawuf , Ibn Taimiyyah masih menyempatkan diri untuk menyatakan pujiannya kepada tokoh-tokoh tasawuf generasi awal seperti Al-Junaid dan Abdul Qadir al-Jailani.

Dalam masalah politik, Ibn Taimiyyah meyakini bahwa membangun negara adalah bagian dari perintah Allah. Melalui negara, doktrin al-amru bi al-ma’ruf dan al-nahyu ‘an al-munkar dapat diwujudkan dengan semestinya. Negara juga merupakan amanah untuk menyelesaikan urusan-urusan masyarakat banyak.

Demikianlah profil singkat dan figur seorang ulama besar yang kini banyak dicurigai sebagai sumber ideology of terror. Ibn Taimiyyah, dengan segala kekurangan dan kelemahannya, nyatanya merupakan tokoh besar yang patut dibanggakan umat Islam. Ibn Hajar al-‘Asqallani (w. 852/1448), seorang ahli hadits terkemuka, dalam salah satu pernyataannya pernah memuji Ibn Taimiyyah, “Pengakuan akan keimaman (ketokohan) Taqiyuddin (ibn Taymiyyah) lebih terang dari pada matahari. Gelaran Syaikh al-Islam pada zamannya masih terus lestari hingga sekarang di atas lidah-lidah yang berbudi luhur dan akan lestari hingga hari esok sebagaimana hari kemarin. Tidaklah seorangpun mengingkarinya kecuali mereka yang tidak mengerti atau berpaling dari sikap adil..”.

0 Responses to “Ibn Taymiyyah & Ideology of Terror”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: