Dan Khidlir pun Telah Wafat

By: M. Sahrul Murajjab

Sebenarnya, saya tidak terlalu tertarik untuk menngungkit persoalan-persoalan yang menurut saya tidak banyak manfaatnya untuk diperdebatkan panjang lebar. Lebih baik, energi dan semangat kehausan ilmu disalurkan kepada pilihan-pilihan yang prioritas. Perdebatan mengenai Nabi Khidlir/Idris/Ilyas/’Isa apakah masih hidup atau telah wafat, surga Nabi Adam dulu itu apakah sama dengan surga yang nanti akan didiami orang-orang mukmin dan sejenisnya menurut saya tidak terlalu berarti bagi peneguhan iman dan tauhid kita. Tidak pula memiliki implikasi apapun bagi peningkatan kualitas amal ibadah kita.

Masalah ini persis dengan perdebatan mengenai jumlah ashabul kahfi apakah ia berbilang tiga, lima ataukah tujuh. Dengan tegas Al-Quran menegur kita untuk tidak ‘memperdebatkan’nya dan menghabiskan energi untuk mencari-cari tahu berapa jumlah mereka sebenarnya (QS. Al-Kahfi/18:22). Alasannya tentu dapat dipahami bahwa berapapun jumlah ashabul kahfi,  tidak akan mempengaruhi sedikitpun nilai-nilai pelajaran yang hendak diajarkan melalui penceritaan kisah mereka. Meski demikian, sebagai sebuah “tanggungjawab ilmiah”, Al-Quran dalam ayat yang sama mengindikasikan secara implisit bahwa jumlah mereka sebenarnya adalah tujuh.

Maka, sebagai tanggungjawab keilmuan juga, mengingat ada beberapa kalangan yang kembali mencuatkan ‘isu’  perdebatan tentang masih hidup atau tidaknya Khidlir dan nabi-nabi lainnya seperti Nabi Idris dan Nabi Ilyas maka saya dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki akan mencoba mendudukkannya secara jernih dan proporsional.

Framework dan Cara Berfikir

Adalah betul bahwa terjadi perbedaan pandangan yang cukup tajam diantara para ulama  mengenai wafat atau hidupnya Nabi Khidlr. Perdebatan mengenai hal ini banyak disebutkan dalam berbagai kitab aqidah, tafsir, hadits dan syarahnya, buku-buku sejarah, kodifikasi fatwa dan bahkan sebagian buku fiqh. Bagi penggemar Al-Maktabah al-Syamilah atau yang akrab dengan Mbah Google dapat dengan mudah mengetahui perdebatan ini. Akan tetapi kita, apalagi sebagai pencari ilmu, tentu jangan sampai kemudinan terjebak kepada logika bahwa beragamnya pandangan menunjukkan kemustahilan ttercapainya sebuah konsensus/kesepakatan yang pada akhirnya menunjukkan bahwa tidak ada satupun pendapat yang benar (controversy means no consensus, and no consensus means no truth).

Cara berfikir demikian adalah seperti logika kaum sophist (al-sufasthā’iyah) yang juga mirip-mirip dengan pandangan kaum relativis (al-`indiyyah), kaum skeptic (al-inādiyyah) maupun kalangan agnostic (al-lā’adriyyah).  Lagi pula dalam sebuah persoalan yang melibatkan banyaknya perbedaan pendapat perlu dilihat terlebih dahulu dengan seksama apakah masing-masing pandangan memang memilki basis argument yang kuat atau tidak (wa laysa kullu khilāfin jā’a mu`tabaranillā khilāfun fīhi hadzdzun min al-nadhari).

Problem Epistemologis

Lantas kebenaran (truth) itu hendak kemana dicari?? Dalam kajian epistemology Islam, sebuah kebenaran dan ilmu dapat diketahui dari tiga sumber yaitu persepsi inderawi (idrāk al-hawāss) [al-Nahl: 78], proses penalaran akal sehat (al-ta`aqqul) dan intuisi hati (qalb) [Qāf:37; al-‘Araf: 179; Al-Hajj:46], serta yang terakhir melalui informasi yang benar (al-khabar al-shādiq) [Alu Imran: 138; Al-Maidah: 15 dlll].

Nah karena hidup atau matinya Nabi Khidlr , Nabi Ilyas dll adalah termasuk persoalan ghaib maka sumber kebenaran dan ilmu yang wajib dipercayai otoritasnya adalah al-Khabar al-Shadiq ya’ni Kitabullah dan hadits-hadits Nabi yang sahih. Disini diperlukan apa yang disebut dengan  “kritik narasumber”, sebagaiamana telah dijelaskan oleh para ulama utamanya dalam kajian hadits dan ushul fiqh. Dalam konteks ini prinsip ilmiyah yang dipakai dalam mengemukakan pandangan kita selanjutnya adalah  kaidah “in kunta naaqilan fa al-shihhah wa in kunta mudda’iyan fa al-dalil”.

Perdebatan Tentang Hidup tidaknya Nabi Khidlir

Sebagaimana disinggung dimuka, hidup atau atau wafatnya Khidlr menjadi bahan perdebatan sengit para ulama. Sebagian meyakini bahwa beliau masih hidup sedangkan sebagian yang lain meyakini sebaliknya.

Namun ketika ditilik dalil dan argument masing-masing pihak, saya sampai pada kesimpulan bahwa beliau telah wafat.  Ini didasarkan pada ayat al-Quran QS. Al-Anbiya/21:34 yang artinya berbunyi: Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? “.

Penafsiran akan ayat ini memang bisa ditarik kemana-mana. Tetapi dukungan dalil-lainnya seperti hadits berikut justru menguatkan pendapat bahwa Khidlr telah wafat.

Argument kedua, adalah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar yang menyatakan bahwa Nabi SAW bersabda: “… tidaklah seseorang yang hidup saat ini masih tetap ada/hidup setelah seratus tahun lagi “.Dengan hadits inilah Al-Bukhari meyakini bahwa Khidlir telah wafat.

Hal lain yang menarik, bahwa hadits ini juga menunjukkan sisi lain ‘kehebatan’ Nabi . Hadits ini diucapkan oleh beliau pada tahun kesepuluh hijriyah, menjadi catatan penting bahwa sahabat Nabi yang paling telat wafatnya dipastikan di tahun 110 H, tidak lebih dari itu.

Lagi-lagi, bisa-bisa saja jika kemudian ada pihak-pihak yang berupaya “mencari jalan tikus” untuk bisa kabur dari kandungan arti hadits yang sudah sangat gamblang tersebut. Mungkin sebagian orang akan bilang bahwa hadits ini tidak menyebut secara eksplisit bahwa Khidlir telah wafat dengan alasan bahwa Isa ibn Maryam toh juga masih hidup??

Meski kelihatan cukup beralasan tapi pendapat ini ternyata rapuh karena memang nabi Isa tidak masuk dalam cakupan makna hadits tersebut. Sebab pada riwayat lain Nabi membatasinya pada “mereka yang berada di muka bumi..” , sedangkan Nabi Isa (kalaupun kita sebut) hidup ia ada di langit.

Selain itu ada juga yang berargumen bahwa Dajjal berada di bumi toh dia juga masih hidup, bagaimana mendudukkannya? Untuk hal ini, jawaban yang dapat disamapaikan adalah bahwa hadits tadi bersifat umum sedangkan pernyataan masih hidupnya Dajjal meruapakan pengecualian yang diterangkan dalam berbagai hadits Nabi lainnya yang juga sahih. Dalam kaidah ushul ini disebut dengan membawa dalil umum kepada dalil khusus.

Argumen ketiga yang mendukung pendapat telah meninggalnya Khidlr adalah melalui sebuah logika. Yakni, Jika Khidlir masih hidup tentu seharusnya ia mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan bahkan sebagai seorang Nabi, Khidlir seharusnya juga menjadi penolong Nabi digaris terdepan ketika Nabi SAW mengalami masa-masa sulit dalam dakwah, jihad dan penyebaran agama Islam (lihat QS. Alu `Imran: 81).

Penutup

Demikian penjelasan singkat  dalil-dalil dan argument mengenai wafatnya Khidlir. Ayat Al-Quran dan hadits Nabi yang sahih telah cukup jelas menjadi bukti kuat.

Lantas bagaimana dengan hujjah mereka yang mengatakan bahwa Khidlir masih hidup??? Kita katakana: silahkan datangkan dalil dari Al-Quran dan Sunnah Nabi yang sahih dan sarih yang menunjukkan akan hal itu!

Bagaimana dengan perkataan ulama??? Kita katakana: Sebagaimana banyak ulama yang mendukung  pendapat bahwa Khidlir masih hidup, banyak pula ulama otoritatif yang menyatakan bahwa Khidlir telah wafat. Jadi?? Kembalikan saja kepada asalnya (Quran & Sunnah) sesuai dengan framework dan epistemology sebagaimana di atas!!

Wallahu a’lam.

Dalam ketergesaaan, Jakarta, 19 Rajab 1431 H – 02 Juli 2010

6 Responses to “Dan Khidlir pun Telah Wafat”


  1. 1 Baju Kebaya Modern July 22, 2010 at 5:15 pm

    Baru sempat mampir nih!
    Liat-liat dulu….
    Situsnya bagus nih!
    apalagi kalau disuguhi makan!
    hehehehehhehehe
    Kunjungan balik ya sob, ini blog saya
    http://artibelajarmengajar.blogspot.com
    Salam kenal….

  2. 3 Hafidzdukalara@ymail.com October 3, 2010 at 10:41 am

    Kalo nabi khidir wafat dimana kuburnya ya?

  3. 5 harna January 24, 2011 at 1:16 am

    …Bahkan kenabian Khidlir pun masih diperdebatkan…

    • 6 ikatmakna January 24, 2011 at 11:50 am

      @ Kang Harna: Betul betul betul… tapi, diperdebatkannya sesuatu hal tidak berarti tidak ada pendapat yang paling mendekati kebenaran untuk kita pilih. Menngenai kenabian Khidlr, mayoritas ulama menganggapnya sebagai Nabi dengan sejumlah dalil dan pertimbangan.

      Any way, beliau Nabi atau bukan, telah wafat atau masih hidup, selayaknya tidak banyak mengambil konsentrasi kita, hehehe..

      Wallahu a’lam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: