Rasionalisme dalam Pendidikan Islam: Studi Awal Pemikiran Yusuf Al-Qaradlāwi

Rasionalisme dalam Pendidikan Islam: Studi Awal Pemikiran Yusuf Al-Qaradlāwi

Oleh : M. Sahrul Murajjab

Reformers are on target when they mobilize themselves to improve education regarding it as one of the most important aspects of reform and one of the strongest building blocks in the construction of a nation

Dr. `Abdul Hamid Abu Sulayman[1]

A. Pendahuluan

Bukanlah sebuah fakta yang perlu diperdebatkan jika dikatakan bahwa peradaban yang dibangun Islam adalah peradaban ilmu. Mulai dari ayat suci Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan di muka bumi dan ayat-ayat lain yang turun berikutnya, hingga Sunnah serta sejarah hidup Rasulullah SAW cukup menjadi bukti gamblang bagaimana perhatian Islam terhadap ilmu dan pendidikan sedemikian besar. Semangat intelektualitas yang membara dan pemahaman yang benar terhadap konsep ilmu yang terwariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW oleh para penerus sejarah umat ini juga telah memunculkan sebuah peradaban besar yang sangat berjasa bagi tumbuh berkembangnya peradaban Barat yang datang kemudian dan biasa kita sebut sebagai perdaban modern.

Diskursus mengenai konsep ilmu dan pendidikan juga mendapat porsi besar dalam berbagai literatur dan tulisan para sarjana muslim terkemuka yang pernah muncul dalam bentangan sejarah panjang peradaban Islam. Sekedar menyebut contoh, adalah Ibn Hazm al-Andalusi, seorang sarjana yang sangat piawai berbicara mengenai filsafat, teologi, hukum (fiqh), sejarah maupun politik, karya-karyanya tak luput berbicara mengenai pemikiran pendidikan yang bertebaran dalam berbagai bukunya seperti Ţawq al-Hamāmah, Mudāwāh al-Nufūs atau Al-Taqrib fi Hadd al-Mantiq wa al-Madkhal fīh.[2] Demikian pula dengan Abu Hāmid al-Ghazāli (w.505H) atau para sarjana yang menulis buku-buku spesifik mengenai pendidikan seperti Muhamad ibn Sahnūn al-Tanūkhi (160-240H) dalam karyanya Ādāb al-Mu`allimīn wa al-Muta`allimīn, Ibn Al-Jazzār al-Qayruwāni (w.369H) dengan Siyāsah al-Şibyān wa Tadbīruhum, Nāşiruddīn al-Ţūsi (567-672 H) yang mengarang buku Ādāb al-Muta`allimīn, Ibn Jamā`ah (639-733H) dengan karyanya Tadzkirah al-Sāmi` wa al-Mutakallim fī Ādāb al-`Ālim wa al-Muta`allim atau Al-Sam`āni (506-562H) dengan bukunya Adab al-Imlā’ wa al-Istimlā’, Burhānuddīn al-Zarnuji (w.591H) dengan Ta`līm al-Muta`allim, serta Al-Shawkāni (w. 1281H) dengan Adab al-Ţalab wa Muntahā al-Arab dan lain-lain.[3]

Namun ironisnya, [kualitas] pendidikan di dunia Islam secara umum dalam konteks kekinian telah dan masih terus mengalami kondisi yang sangat menyedihkan (deplorable), sehingga membutuhkan sebuah solusi dan langkah-langkah efektif untuk kembali membangkitkannya baik usaha-usaha itu datang dari para individu sarjana/tokoh cendekiawan maupun organisasi-organisasi keagamaan. Tentunya, sebagaimana laiknya usaha-usaha yang dilakukan manusia, sebuah aktivitas pendidikan senantiasa memerlukan peninjauan ulang setiap waktu untuk dievaluasi, baik dalam kerangka evaluasi permulaan (taqwīm ibtidā’ī, initial evaluation) maupun evaluasi akhir (summative evaluation, taqwīm khitami) untuk dilakukan perbaikan-perbaikan dan sejumlah perubahan.

Salah satu kritik tajam yang seringkali dialamatkan kepada kondisi pendidikan Islam kontemporer adalah adanya dominasi indoktrinasi dan pendekatan metode belajar-mengajar yang cenderung monolog, serta menonjolnya sikap taqlid yang pasif sehingga dianggap mengabaikan aspek-aspek rasionalitas serta kritisisme dalam proses pendidikan yang berlangsung. Untuk itu makalah ini akan berupaya melihat sejauh mana sebenarnya Islam memandang aspek rasionalitas dalam proses pendidikan dengan menggunakan ‘kacamata’ atau perspektif pemikiran salah satu tokoh besar Islam abad ini  yaitu Prof. Dr. Shaikh Yūsuf al-Qaradlāwi (selanjutnya akan disingkat dengan al-Qaradlāwi saja).

Sebagai sebuah studi awal, kajian yang dilakukan oleh penulis tidak akan membaca secara lengkap atau bahkan sejumlah besar karya-karya Al-Qaradlāwi melainkan sebagian kecilnya saja. Pemilihan tokoh ini dipandang sangat memadai mengingat keberadaan al-Qaradlāwi yang sedemikian penting dan otoritatif dalam konstelasi akademis dan peta pemikiran umat Islam kontemporer dengan berbagai capaiannya yang luar biasa baik dalam kiprahnya sebagai seorang shaikh, faqīh, pendidik, penulis buku, bahkan hingga dalam kapasitasnya sebagai tokoh politik Islam.

B. Al-Qaradlāwi: Biografi Singkat dan Perjalanan Intelektual.

Al-Qaradlāwi dilahirkan di desa Shaft Turab, distrik Al-Mahallah al-Kubro, provinsi al-Gharbiyyah, Mesir, tahun 1926, dalam sebuah keluarga petani miskin yang taat beragama. Kedua orang tuanya telah wafat semenjak beliau berusia dua tahun, sehingga pamannyalah yang kemudian merawatnya dalam asuhan yang ketat.[4] Masa kecil beliau dilalui tanpa banyak waktu luang untuk bermain dan bersukaria sebagaimana teman-teman sebayanya. Sejak berumur sepuluh tahun, setelah menyelesaikan hapalan al-Qur’an dengan baik, masyarakat sering memintanya menjadi imam shalat atau memberi ceramah keagamaan.

Al-Qaradlāwi kecil memulai masa belajarnya saat berumur lima tahun di sebuah kuttāb[5] di kampungnya untuk menghapal al-Quran. Pendidikan dasar dan menengah  dilewati oleh Al-Qaradlāwi kecil dengan baik, dimana ia selalu menjadi murid yang terdepan dalam prestasi belajar.[6]

Pada tahun 1953 beliau berhasil meraih ijazah al-`Ālimiyah dari Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar dengan prestasi sebagai lulusan terbaik peringkat pertama. Kemudian meraih ijazah al-`ālimiyah kedua kali dari Fakultas Bahasa Arab. Selanjutnya tahun  1957 Al-Qaradlāwi mengikuti perkuliahan di Ma’had al-Buhūts wa al-Dirāsāt al-`Arabiyyah, hingga mendapat gelar Diploma dalam bidang Bahasa dan Sastera Arab setahun kemudian. Pada tahun 1973 gelar akademis tertinggi (doktoral) berhasil diraihnya dengan martabat al-sharaf al-ūla (summa cum laude) melalui disertasi berjudul “Al-Zakāh wa Ātsāruhā fii Halli al-Mushkilāt al-Ijtimā’iyyah.[7]

Selain dikenal sebagai seorang dai kaliber internasional dan ulama akademisi yang disegani, Al-Qaradlāwi juga sangat produktif dalam menulis. Tercatat lebih dari 100 judul buku telah dihasilkannya, termasuk magnum opus-nya yang berjudul Fiqh al-Zakāh setebal dua jilid. Oleh Abu al-‘A`lā al-Mawdudi buku ini dipuji sebagai “kitab fikih abad ini (baca: abad 20)”.[8] Buku ini pula yang telah mengantarkannya mendapatkan anugerah King Fayşal Award dalam bidang pengabdian terhadap Islam tahun 1415 H.

Dalam dunia pendidikan Al-Qaradlāwi memiliki  pengalaman yang cukup matang. Sebelum diutus ke Qatar untuk menjadi Kepala Ma’had Agama Tingkat Menengah tahun 1961, beliau aktif mengajar dan menyampaikan ceramah di berbagai mesjid di Mesir, serta kemudian menjadi pengawas (mushrif) sebuah ma`had yang mendidik para calon imam. Pada tahun 1973, ketika dibangun Institut Pendidikan di Qatar yang kelak berkembang menjadi Universitas Qatar, Al-Qaradlāwi diberi tugas untuk merintis Departemen Studi Islam dan sekaligus diberi amanah untuk memimpinnya. Tahun 1977, beliau ikut mendirikan Fakultas Shari`ah dan Studi Islam di Universitas Qatar sekaligus kemudian menjadi dekannya hingga tahun 1990. Pada tahun yang sama, beliau dipinjamkan ke Aljazair untuk mengajar di berbagai lembaga pendidikan di negara Afrika Utara tersebut.[9]

Kiprah lain Al-Qaradlāwi di luar bidang pendidikan juga cukup banyak. Antara lain beliau pernah menjabat sebagai anggota Dewan Tinggi Fatwa dan Pengawasan Syariah Asosiasi Bank Islam Internasional, Direktur Pusat Kajian Sunnah dan Sirah Nabi di Universitas Qatar, sebagai salah seorang pakar di Majma’ al-Fiqh al-Islāmi yang berada dibawah naungan OKI (Organisasi Konferensi Islam), anggota Dewan Sosial Islam Internasional, serta Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional.

Dalam pengembaraan intelektual (masār al-fikr) dan perjalanan hidupnya secara umum, Al-Qaradlāwi mengakui banyak terwarnai oleh pemikiran-pemikiran Hasan al-Banna. Demikian juga interaksinya dengan gerakan Al-Ikhwān al-Muslimūn, yang disebutnya sebagai representasi sebuah model gerakan Islam ideal.  Maka tidak aneh jika sebagian besar gagasan dan pemikiran Al-Qaradlāwi merupakan kelanjutan dari ide-ide Al-Banna dan tokoh-tokoh Ikhwan lainnya. Namun, keterlibatan dan kekaguman Al-Qaradlāwi akan gerakan  Ikhwan tidak mengurangi semangat kritisnya terhadap gerakan ini maupun gerakan-gerakan Islam yang lain. Hal ini bisa dilihat dalam buku-bukunya seperti Ayna al-Khalal, Al Hallu al-Islāmi: Farīdlah wa Dlarūrah dan Awlawiyyāt al-Harakah al-Islāmiyyah fi al- Marhalah al-Qādimah.

Secara personal Al-Qaradlāwi sangat mengagumi pribadi Al-Banna. Menurutnya profil Al-Banna adalah sinergi bakat dan kemampuan yang dimiliki beberapa orang. Yaitu mengumpulkan antara ilmu dan tarbiyah, memadukan antara pemikiran (fikr) dan gerakan (harakah), menyelaraskan agama dan politik, serta menyatukan kesalehan bathin (ruhaniyat) dan jihad.[10] Al-Qaradlāwi juga pernah menyebut kelebihan Al Banna dalam mengkombinasikan antara ‘nalar’ seorang Salafy dan kelembutan hati seorang Sufi.[11] Selain Al-Banna, tokoh-tokoh seperti Shaikh Al-Bahiy al-Khūlī (penulis buku Tadzkirah al-Du`āt), Shaikh Muhammad Al-Ghazali, Dr. `Abdullah Darrāz dan Shaikh Muhammad Syaltūt diakui Al-Qaradlāwi telah banyak memberikan pengaruh dan mewarnai pemikiran-pemikirannya.[12]

Dengan mengetahui sejumlah tokoh dan trend pemikiran yang turut mempengaruhi konstruksi intelektualitas Al-Qaradlāwi, pada beberapa lembar pembahasan di depan akan dapat diketahui bagaimana pendapat-pendapat beliau mengenai konsep ilmu dan pendidikan,  khususnya  berkenaan dengan topik rasionalisme dalam pendidikan Islam yang menjadi tema pembahasan makalah ini akan dapat dilihat pengaruhnya, terutama Al-Banna dan gerakan Ikhwan, terhadap ide-ide dan pemikiran al-Qaradlāwi.

C. Rasionalisme dalam Pendidikan Islam: Perdebatan Wacana

Isu mengenai rasionalisme dalam pendidikan Islam telah menjadi perbincangan yang cukup intens dikalangan pemerhati dan pelaku pendidikan Islam. Dalam makalah ini, dengan mengadopsi makna generik “rationality” sesuai bahasa asalnya, yakni bahasa Inggris, rasionalisme akan diartikan sebagai penggunaan kemerdekaan berfikir yang kritis dan analitis dalam melakukan pembelajaran, penelitian dan pencarian kebenaran dengan menghindari fanatisme dan kungkungan ide-ide yang pernah ada sebelumnya.

Dalam beberapa literatur dijumpai banyak kritik yang dilontarkan para pakar pendidikan mengenai problem rasionalisme dalam pendidikan Islam. Para pemerhati pendidikan dari kalangan umat Islam secara umum mengakui bahwa pada tataran praktis (the being) pendidikan Islam saat ini banyak mengalami kemunduran dan melenceng dari garis yang diidealkan oleh Islam sendiri (the ought to be). Salah satu indikasinya adalah bahwa dalam praktek belajar-mengajar, berbagai lembaga pendidikan muslim di dunia telah mengabaikan pendekatan kritis, rasional dan analitis (critical, rational and analytical approach).[13]

Yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan tersebut proses pembelajaran terwujud ketika seorang guru biasanya hanya berbicara mengenai informasi atau ilmu yang ia miliki secara monolog, sementara murid-muridnya sangat dibatasi untuk memberikan pertanyaan atau apalagi menyampaikan pendapatnya pribadi. Maka yang terjadi di dalam sebuah kelas hanyalah penjejalan informasi. Meski di satu sisi pendekatan ini memang memberikan kesempatan bagi para murid untuk dapat meraup informasi dan pengetahuan sebanyak-banyaknya dari sang Guru, namun akibat negatifnya mereka menjadi tidak mampu mengolah dan menggunakan ilmu maupun informasi yang mereka dapatkan secara tepat. Kondisi ini menurut Dr. Israr Ahmad Khan sangat bertentangan dengan semangat rasionalitas yang diajarkan oleh Al-Quran dan Sunnah Nabi. Pengabaian rasionalitas ini menurutnya merupakan satu dari dua kekeliruan ekstrem dalam sebuah kerja intelektual, yakni meninggalkan fungsi akal (no use), yang sejajar dengan kesalahan ekstrem lainnya yaitu menyalahgunakannya (misuse).[14] Kenyataan ini juga berbeda dengan apa yang pernah dicatat oleh sejarah Islam era `Abbasiyah dimana halaqah-halaqah yang ada di masjid-masjid Baghdad pada masa itu para syaikh yang mengajar melibatkan murid-muridnya dalam diskusi. Debat bahkan juga diadakan untuk mengasah kemampuan guru dan murid terutama dalam pengajaran hukum tingkat tinggi.[15]

Sementara itu dari sebagian kalangan pakar pendidikan yang lain, khususnya dari kalangan Barat non-muslim, melihat bahwa ”ada yang salah” dengan nature dari konsep-konsep pendidikan Islam yang mengutamakan indoktrinasi dan tidak mengakomodasi atau bahkan berlawanan dengan rasionalisme, utamanya jika dibandingkan dengan rasionalisme liberal peradaban Barat. Sekedar menyebut contoh, John M. Halstead, seorang professor pendidikan asal Inggris, dalam sebuah kajiannya menyimpulkan bahwa konsep pendidikan Islam secara umum sangat tidak rasional. Ia menyatakan bahwa “Independence of thought and personal autonomy do not enter into the Muslim thinking about education, which is more concerned with the progressive initiation of pupils into the received truths of the faith.[16]

Menurut pendapat Halstead, terdapat perbedaan tajam yang terjadi antara budaya Islam dan Barat, sehingga memunculkan pertentangan konsep yang sangat kontras antara sistem pendidikan Islam yang dominan dengan indoktrinasi dengan Barat Liberal yang menurutnya sangat rasionalis. Baginya, sistem pendidikan Barat Liberal memiliki dua pilar terpenting yang tidak dimiliki Islam yaitu rasionalitas dan kemerdekaan intelektual.[17]

Halstead tentu terlalu berlebihan dengan pendapatnya tersebut. Nampaknya ia tidak benar-benar mendalami bagaimana sesungguhnya Islam meletakkan rasionalisme pada posisi yang justru teramat terhormat. Al-Qur’an, secara eksplisit sangat menganjurkan manusia untuk menggunakan akalnya dan berfikir mengenai berbagai hal di dunia ini, baik mengenai teks-teks suci al-Qur’an (QS. Şāād: 29 & QS. Muhammad: 24),  tentang makhluk/ciptaan dan alam semesta (QS. Āl `Imrān: 191 & QS. Al-Mulk: 3-4), syari`at dan hukum-hukum Allah (QS. Al-Baqarah: 179),  maupun sejarah bangsa dan masyarakat terdahulu (QS. Al-An`ām: 11), bahkan juga tentang dunia dan kenikmatannnya yang semu (QS. Al-Kahfi: 145). Al-Qur’an juga memberikan “kebebasan” bagi manusia dengan akal yang telah dianugerahkan kepadanya untuk memilih antara menjadi beriman atau berlaku kufur sebagaimana dalam QS. Al-Kahf: 29 dan QS. Al-Baqarah: 256.

Dengan kenyataan ini pendapat Halstead pun menuai bantahan dari kalangan sarjana muslim, seperti dilakukan oleh dua orang professor pendidikan asal Iran, Khosrow Bagheri dan Zohreh Khosravi, yang berhasil membuktikan melalui salah satu kajian kritisnya terhadap pendapat Halstead bahwa secara konseptual sistem pendidikan Islam sangat mempertimbangkan rasionalitas, meskipun tentu saja sangat berbeda dengan konsep rasionalitas dalam konsep Liberalisme Barat.  Letak perbedaannya, rasionalisme dalam pendidikan Islam tidak dibiarkan bebas-lepas tanpa batas laiknya dalam tradisi Barat-Liberal. Keduanya mengatakan dalam simpulan kajian mereka:

“As far as the Islamic view is concerned, human reason is not considered an omniscient entity (as some of the advocates of liberalism might claim) and, consequently, acknowledging the limits of human reason is itself regarded as a rational matter. Despite this, however, as this essay shown, the basic elements of Islamic concept of education have a background of rationality”.[18]

Simpulan ini hampir senada dengan pendapat S.M. Naquib al-Attas, yang menyatakan bahwa pendidikan [Islam] yang menjadikan manusia sebagai elemen recipient dalam tiga elemen pilar pendidikan (process, content and recipient), secara serta merta sangat memperhatikan rasionalitas karena manusia itu sendiri adalah “makhluk yang memiliki jiwa berfikir” (hayawān al-nāţiq). Meskipun al-Attas menggais bawahi bahwa makna berfikir/menggunakan rasio ini dalam artian kemampuan untuk berfikir guna membedakan yang baik dari yang jelek,[19] bukan kebebasan berikir tanpa batas.

D. Rasionalisme Pendidikan Islam dalam Pemikiran Al-Qaradlāwi

Sebagai seorang tokoh Muslim abad modern yang juga dianggap sebagai seorang pembaharu (reformer) Al-Qaradlāwi telah “berada pada jalur yang benar (on target)”             -meminjam istilah Dr. `Abdul Hamid Abu Sulayman- dalam mega proyek şahwah islāmiyyah dan pembangunan umat yang selama ini diperjuangkannya. Selain aktif sebagai seorang pegiat pendidikan di lapangan praktis sebagai mana disinggung di muka, Al-Qaradlāwi juga menulis beberapa buku berkenaan dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Menulis lebih dari seratus judul buku, Al-Qaradlāwi tidak abai terhadap tema terkait konsep ilmu dan pendidikan. Beberapa bukunya, sekedar untuk menyebut contoh, menyentuh langsung tema-tema konsep ilmu dan pendidikan seperti Al-`Aql wa al-`Ilm fī al-Qur’ān,[20] Al-Rasūl wa al-`Ilm,[21] Al-Hayāh al-Rabbāniyah wa al-`Ilm,[22] Al-Dīn fī `Aşr al-`Ilmi[23] dan Al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Madrasah Hasan al-Banna.[24] Selain itu pikiran dan gagasannya mengenai konsep ilmu dan pendidikan tersebar dalam buku-bukunya yang lain, serta di berbagai wawancara, makalah, maupun ceramah-ceramahhnya yang disampaikan dalam berbagai kesempatan.

Terkait perdebatan mengenai rasionalisme dalam pendidikan Islam, al-Qaradlāwi secara tegas menolak jika agama [Islam] disebut menghalangani rasionalisme atau kemajuan ilmu pengetahuan.[25] Menurut beliau, ilmu dan akal justru mendapat tempat yang cukup tinggi dalam Islam. Bahkan beliau meyakini bahwa tidak ada agama lain yang lebih memulyakan ilmu dan orang-orang berilmu lebih dari pada Islam. Akal dalam Islam juga menjadi prasyarat utama adanya taklīf. Tanpa adanya akal, taklīf dengan sendirinya juga tidak akan pernah ada. Dalam ungkapan lain, pengebirian akal akan mejatuhkan derajat manusia menjadi hewan.[26]

Penghormatan terhadap akal dan rasionalitas tersebut juga diturunkan dalam konsep pendidikan. Mengenai hal ini, dalam kerangka untuk mencari sebuah model yang aplikatif atas konsep tersebut al-Qaradlāwi menyebut konsep pendidikan seperti yang dipraktekkan oleh al-Ikhwān al-Muslimūn adalah model ideal pendidikan Islam yang dilakukan oleh gerakan-gerakan Islam.[27] Tentu, yang dimaksud al-Qaradlāwi tentang Pendidikan Islam di sini adalah dalam maknanya yang luas dan tidak terbatas dalam bentuk pendidikan formal. Menurutnya, dalam konsep pendidikan al-Ikhwān aspek rasionalitas (al-jānib al-`aqli) mendapat porsi perhatian cukup besar. Pendidikan akal (al-tarbiyah al-aqliyah) adalah wajib hukumnya sebagaimana wajibnya pendidikan keimanan dan ruhani. Dalam kaitan ini, pendiri al-Ikhwān, Hasan al-Banna menjadikan al-fahm (kepahaman) sebagai rukun baiat yang pertama sebelum al-ikhlāş, jihad, amal dan lainnya.[28]

Bentuk lain dari penghargaan terhadap akal dan rasionalitas dalam proses pendidikan Islam adalah didorongnya para murid untuk tidak perlu merasa segan bertanya kepada guru mereka  jika mendapati hal-hal yang belum jelas atau masih mengganggu pikiran mereka.[29] Dengan cara atau pendekatan seperti ini, apa yang biasa dituduhkanan sebagai indoktrinasi dalam praktik pendidikan menjadi tidak relevan. Karena dalam sebuah indoktrinasi, seorang murid harus menerima apa adanya segala hal yang disampaikan oleh gurunya secara taken for granted. Namun, meski memberi kewenangan kepada murid untuk menyempaikan pendapatnya dihadapan guru, al-Qaradlāwi juga mengingatkan keharusan penghormatan terhadap seorang guru. Dalam pandangannya, kewajiban penghormatan kepada seorang guru bisa disejajarkan dengan penghormatan terhadap orang tua kandung si murid atau bahkan lebih.[30]

Al-Qaradlāwi mengkritik keras “nalar mitos” (aqliyah khurāfiyah) yang tanda-tandanya adalah menerima begitu saja setiap apa yang didengar, terutama jika datang dari orang-orang terhormat baik seorang guru, tokoh agama atau dari berbagai tradisi lama. Lawannya yang harus dikembangkan adalah sikap “nalar rasional objektif” (aqliyah ilmiyah mawdlū`iyyah) yang menurutnya memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:[31]

  1. Tidak serta merta menerima sebuah pendapat atau klaim jika tidak didasari oleh dalil yang kuat. Yang dimaksud dengan dalil adalah al-burhān al-nadzari (teori yang sudah pasti) dalam persoalan `aqliyyat (QS. al-Naml: 64), mushāhadah atau eksperimen dalam persoalan yang inderawi (hissiyat) (QS.al-Zukhruf:19) dan validitas transmisi dalam hal-hal yang termasuk wilayah naqliyat (QS. al-Ahqāf: 4).
  2. Menghindari segala bentuk prasangka (al-dzann) dalam setiap persoalan yang mengharuskan adanya kayakinan yang pasti. Dalam kerangka inilah Al-Qur’an menolak ‘keyakinan’ kaum Nashrani tentang disalibnya Isa yang sejatinya tidak lain hanya berdasarkan dugaan semata (QS. al-Nisā: 157).
  3. Tidak mengedepankan emosi, sentimen, perasaan, hawa nafsu atau kesan-kesan yang bersifat pribadi melainkan mengutamakan netralitas dan obyektifitas (QS. al-Najm: 23 & Shāād: 26)
  4. Menolak cara berfikir yang statis, imitatif dan tidak kritis terhadap pendapat orang lain (QS. al-Baqarah: 170), sebagaimana pula peringatan Nabi SAW yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, “Janganlah kalian menjadi orang yang sekedar ikut arus (imma`ah), yang berkata: aku senantiasa bersama orang-orang; jika mereka berlaku baik maka aku akan berlaku baik bersama mereka dan jika mereka berlaku buruk maka aku juga akan berlaku yang sama dengan mereka..”
  5. Senantiasa membiasakan diri untuk melakukan olah fikir dan berkontemplasi baik mengenai ciptaan/semesta (QS. al-A`rāf:185), maupun diri sendiri (QS. al-Dzāriyāt: 31) dan sejarah (QS. Āal `Imrān: 137).

E. Penutup

Agama Islam adalah agama ilmu, agama rasional dan “agama akal”.  Maksudnya, ilmu, rasionalitas dan akal sangat dihormati dalam Islam. Dalam proses pembelajaran tentang Islam dengan berbagai konsep dan ajarannya, rasionalisme dan akal manusia mendapat perhatian besar. Maka dari itu, sebagai turunannya, konsep pendidikan dalam Islam-pun juga bersifat rasional, meskipun dengan catatan tinta tebal bahwa rasionalisme yang disokong bukanlah rasionalisme yang kebablasan sebagaimana dalam worldview Barat.

Sayangnya, rasionalisme yang sedemikian dijunjung tinggi dalam Islam dan pendidikan Islam kemudian menjadi sebuah ironi. Dunia pendidikan Islam pada abad-abad belakangan mengalami krisis, dimana indoktrinasi yang telah mendominasi kegiatan belajar mengajar dan taqlid yang telah mengakar berhasil menggeser pendekatan rasional, kritis dan analitis dalam proses kegiatan ilmiyah.

Kenyataan yang menyedihkan ini menjadi objek kritik dari sejumlah pakar dan pembaharu, salah satunya Yūsuf al-Qaradlāwi yang juga dikenal salah satu tokoh paling otoritatif di dunia muslim abad ini. Berangkat dari sumber-sumber al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang dikuasainya, serta sejumlah ‘pengalaman’ yang diwariskan oleh orang-orang yang sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya seperti Hasan al-Banna dan lain-lain, al-Qaradlāwi cukup berhasil mendudukan ‘rasionalisme Islam’ yang seharusnya ditegakkan kembali dalam bidang pendidikan Islam. Rasionalisme ini, menurutnya memiliki lima  prinsip penting yaitu: 1). Perlunya pembuktian ilmiyah terhadap sebuah klaim ilmu/kebenaran; 2). Tidak tergesa-gesa dengan praduga; 3). Tidak mengedepankan emosi dan subjektifitas; 4). Menghindari taklid buta dan mental mengekor; serta 5). Membiasakan aktifitas berfikir dan olah akal.

DAFTAR PUSTAKA

  • Charles M. Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam, diterjemahkan oleh H. Afandi & Hasan Asari dari aslinya berjudul “Higher Learning in Islam: The Classical Period, A.D 700-1300”, Jakarta: Logos Publishing House,  1994
  • Khosrow Bagheri & Zohreh Khosravi, “The Islamic Concept of Education Reconsidered”, dalam AJISS Vo. 23, No. 4, Fall 2006
  • Sa`īd Ismā`il Ali, Dr.,  Al-Fikr al-Tarbawi al-`Arabi al-Hadits, Serial `Ālam al-Kutub edisi 113, Kuwait: Al-Majlis Al-Waţani li al-Tsaqāfah, 1987
  • Şālih ibn `Ali Abū `Arrād, Dr., Al-Tarbiyah Al-Islāmiyah: `Ilm Tsunā’iyy al-Maşdar, ebook diterbitkan oleh situs www.saaid.net, 1428H
  • Yusuf al-Qaradlāwi, Al-`Aql wa al-`Ilm fī al-Qur’ān,Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. 1, 1996
  • Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Dīn fī `Aşr al-`Ilmi, Ammān: Dār al-Furqān, 1996
  • Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Hayāh al-Rabbāniyah wa al-`Ilm, Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. 1, 1995
  • Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Rasūl wa al-`Ilm, Kairo: Dar al-Şahwah, t.th
  • Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Madrasah Hasan al-Banna, Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. 3, 1992
  • Yusuf al-Qaradlāwi, Liqā’āt wa Muhāwarāt Hawla Qadlāya al-Islām wa al-`Ashr, Beirut: Muassasah Al-Risalah, 2001
  • Yusuf Al-Qaradlāwi, Shumūl al-Islam, Beirut: Muassasah al-Risalah, Cet.2, 1996

Makalah Seminar

  • Israr Ahmad Khan, Prof. Dr., Towards Understanding Islamic Paradigm of Education, makalah disampaikan pada Seminar tentang “Islamic Paradigm of Education with special reference to Quranic & Sunnatic Science”, 27 Februay, 2009 di The Bangladesh Institute of Islamic Thought (BIIT), Dhaka
  • Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, makalah yang dibacakan sebagai sambutan kunci (keynote address) pada “First World Conference on Muslim Education” di Makkah, 1977.

Sumber Internet


[1] Ungkapan ini dikutip dari  banner utama yang terdapat pada situs http://i-epistemology.net/ , diakses terakhir Maret 2010

[2] Baca: Dr. Sa`īd Ismā`il Ali, Al-Fikr al-Tarbawi al-`Arabi al-Hadits, Serial `Ālam al-Kutub edisi 113, Kuwait: Al-Majlis Al-Waţani li al-Tsaqāfah, 1987, hal. 11-13

[3] Lihat: Dr. Şālih ibn `Ali Abū `Arrād, Al-Tarbiyah Al-Islāmiyah: `Ilm Tsunā’iyy al-Maşdar, ebook diterbitkan oleh situs www.saaid.net, 1428H,  hlm. 25-27. Buku dapat dilihat atau diunduh melalui  http:// www.saaid.net/book/open.php?cat=8&book=4507

[4] Yusuf al-Qaradlāwi, Liqā’āt wa Muhāwarāt Hawla Qadlāya al-Islām wa al-`Ashr, Beirut: Muassasah Al-Risalah, 2001, hal.120.

[5] Semacam madrasah atau pesantren untuk anak-anak.

[6]www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=1221&version=1&template_id=190&parent_id =189 , diakses terakhir Maret 2010

[7] Yusuf al-Qaradlāwi, Liqā’āt wa Muhāwarāt, hal. 120

[8] Al-Qaradlāwi, Liqā’āt wa Muhāwarāt, hal. 68

[9] www.qaradawi.net/site/topics/article.asp?cu_no=2&item_no=1221&version=1&template_id=190&parent _id=189, diakses terakhir Maret 2010

[10] Al-Qaradlāwi, Shumūl al-Islam, Beirut: Muassasah al-Risalah, Cet.2, 1996, hal. 7

[11] Al-Qaradlāwi, Al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Madrasah Hasan al-Banna, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, hal. 76

[12] Al-Qaradlāwi, Liqā’āt wa Muhāwarāt, hal. 122-123

[13] Baca misalnya: Israr Ahmad Khan, Prof. Dr., Towards Understanding Islamic Paradigm of Education, makalah disampaikan pada Seminar tentang “Islamic Paradigm of Education with special reference to Quranic & Sunnatic Science”, 27 Februay, 2009 di The Bangladesh Institute of Islamic Thought (BIIT), Dhaka. Tulisan tersebut dapat dibaca di http://i-epistemology.net/education/348-towards-understanding-islamic-paradigm-of-education.html, diakses terakhir Maret 2010

[14] Israr Ahmad Khan, Towards Understanding Islamic Paradigm of Education

[15] Charles M. Stanton, Pendidikan Tinggi dalam Islam, diterjemahkan oleh H. Afandi & Hasan Asari dari aslinya berjudul “Higher Learning in Islam: The Classical Period, A.D 700-1300”, Jakarta: Logos Publishing House,  1994, hal. 37

[16] J.M. Halstead, “An Islamic Concept of Education”, Comparative Education Journal, 40, no.4 (2004):519, sebagaimana dikutip oleh Khosrow Bagheri & Zohreh Khosravi, “The Islamic Concept of Education Reconsidered”, dalam AJISS Vo. 23, No. 4, Fall 2006, hal. 89. Tulisan ini dapat juga diunduh di http://i-epistemology.net/attachments/914_ajiss23-4-stripped%20-%20Bagheri%20and%20Khosravi%20-%20The%20Islamic%20Concept%20of%20Education.pdf

[17] Khosrow Bagheri & Zohreh Khosravi, “The Islamic Concept”, hal. 90

[18] Khosrow Bagheri & Zohreh Khosravi, “The Islamic Concept”, hal. 101

[19] Syed Muhammad Naquib al-Attas, The Concept of Education in Islam, hal. 1-3. Adalah makalah yang dibacakan sebagai sambutan kunci (keynote address) pada “First World Conference on Muslim Education” di Makkah, 1977. Naskah dapar diunduh di http://www.mef-ca.org/files/attas-text-final.pdf, diakses terakhir Maret 2010

[20] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-`Aql wa al-`Ilm fī al-Qur’ān,Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. 1, 1996

[21] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Rasūl wa al-`Ilm, Kairo: Dar al-Şahwah, t.th

[22] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Hayāh al-Rabbāniyah wa al-`Ilm, Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. 1, 1995

[23] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Dīn fī `Aşr al-`Ilmi, Ammān: Dār al-Furqān, 1996

[24] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Madrasah Hasan al-Banna, Kairo: Maktabah Wahbah, Cet. 3, 1992

[25] Buku beliau Al-Dīn fī `Aşr al-`Ilmi merupakan jawaban yang lengkap terhadap persoalan ini.

[26] Baca: Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Hayāh al-Rabbāniyah wa al-`Ilm, hal. 71-73

[27] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Madrasah Hasan al-Banna, hal.4

[28] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Tarbiyah al-Islāmiyah wa Madrasah Hasan al-Banna, hal. 24-25

[29] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Rasūl wa al-`Ilm, hal. 106

[30] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Rasūl wa al-`Ilm, hal. 103-104

[31] Yusuf al-Qaradlāwi, Al-Rasūl wa al-`Ilm, hal. 38-40

3 Responses to “Rasionalisme dalam Pendidikan Islam: Studi Awal Pemikiran Yusuf Al-Qaradlāwi”


  1. 1 arash March 19, 2011 at 11:10 am

    hi
    nice blog,
    do you know where can one get “Islamic Education” by Professor Bagheri? I cant find it. please tell me if you do.
    thanks

  2. 2 jigdood May 27, 2011 at 3:00 pm

    Nice job,
    I was interested in Professor Bagheri’s book, I have recently read his deconstructive religious education paper and it was magnificent. I can’t get the book from Amazon, can you tell me where you got it?

  3. 3 ikatmakna May 30, 2011 at 4:28 am

    Many thanks Mr. Jigdood/Mr. Arash for visiting & appreciating this humble site.

    But It’s really regrettable that the book you need is not available in my own library. I have tried also to find it at some online libraries, but always failed.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: