Al-Asy’ariyah in Brief

Al-Asy’ariyah in Brief

Awal kemunculan teologi Asy`ariyah dapat dikatakan sebagai antitesa dari aliran teologi  Mu’tazilah. Abu al-Hasan al-Asy`ari –sang pendiri firqah ini- yang semula menjadi penganut dan penyokong utama paham Mu’tazilah pada akhirnya menyadari bahwa apa yang selama itu ia yakini ternyata keliru.

Sebagaimana diketahui, aliran teologi Mu’tazilah yang lahir pada abad kedua Hijrah awalnya hanyalah upaya untuk “sekedar merasionalisasikan” konsep-konsep keimanan, yang kemudian berkembang dan melebar kepada penggunaan metode-metode filsafat Helenis sebagai akibat dari pengaruh buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab saat itu. Salah satu konsep pokok paham Mu’tazilah yang dipengaruhi oleh filsafat Yunani adalah konsep tentang dzāt dan sifāt yang mengacu kepada pendapat filosof Yunani Anbadocleus.[1] Pandangan-pandangan Mu’tazilah yang juga didukung oleh penguasa saat itu, mengalami perlawanan sangat sengit dari para ulama dari kalangan Ahl al-Hadits yang memiliki keyakinan dan prinsip-prinsip diametris dibanding dengan paham Mu’tazilah.

Dalam situasi dan kondisi pertentangan antara trend rasionalitas ekstrem Mu’tazilah dengan paham Ahlul hadits –yang kemudian juga diramaikan dengan kemunculan aliran lain seperti Dzahiriyah dan Mujassimah ini – teologi Asy`ariyah  digagas sebagai jalan tengah (intermediary position). Untuk itu Al-Asy`ari berupaya untuk melakukan harmonisasi (tawfīq) antara prinsip-prinsip Ahl al-Hadits dalam berinteraksi dengan wahyu (baik a-Qur’an maupun Sunnah) dengan prinsip-prinsip rasionalitas Mu’tazilah. Dalam salah satu karyanya Istihsān al-Khaudl fi `Ilm al-Kalām misalnya, Al-Asy`ari mencoba melakukan justifikasi pendekatan metodologi  `Ilm al-Kalām dalam diskursus teologi dan masalah-masalah keimanan.[2]

Maka dari itu, meskipun al-Asy`ari sendiri pernah menyatakan telah melepaskan paham Mu`tazilah sebagaimana dia menanggalkan jubah yang dikenakannya, pengaruh Mu’tazilah terhadap teologi Asy`ariyah masih ada yang tercecer dan tertinggal. Salah satu contohnya adalah hipotesa yang menyatakan bahwa hal yang wajib dilakukan pertama kali oleh seorang mukallaf adalah berfikir (al-Nadhar). Kenyataan ini diakui oleh salah seorang pembesar Asy`ariyah, Abu Ja`far al-Samnāni, yang mengatakan bahwa “masalah ini adalah salah satu dari beberapa keyakinan Mu’tazilah yang masih tertinggal di dalam madzhab (Asy`ariyah)”.[3]

Contoh lain, meski Madzhab Asy’ariyah tetap menjadikan al-Quran dan Sunnah sebagai sumber epistemologi (mashdar al-talaqqi) teologi mereka, namun hal itu dengan catatan keharusan kesesuaiannya dengan kaedah dan prinsip ilmu Kalam itu sendiri yang disebut dengan Al-Qānūn al-Kully yang dasar-dasarnya diletakkan oleh al-Baqillani (w. 403H), Al-Juwayni (w. 478 H), Al-Ghazali (w. 505 H), serta al-Razi (w. 606 H).[4]

Tak dapat terhindarkan, pengaruh filsafat Helenis juga merasuk ke dalam madzhab Asy’ariyah yang semakin kental aromanya khususnya di kalangan muta’akkhirun mereka, yaitu sejak era Al-Ghazali, dan mencapai puncaknya pada masa al-Razi.

Namun demikian, menarik untuk diperbincangkan bahwa di sisi lain para mutakallimun Asy’ariyah, sebagaimana al-Syahrastani dan al-Ghazali dengan bukunya Tahāfut al-Falasifah, juga banyak melakukan kritik keras terhadap filsafat Yunani serta kaum muslim yang menjadi penganutnya seperti Ibn Sina dan lain-lain.[5]

Pengaruh filsafat yang cukup jauh dalam metodologi Kalam madzhab Asy`ariyah menyebabkan banyak konsep yang ‘ditawarkan’ oleh firqah ini menjadi ‘bermasalah’. Dalam konsep tentang tawhid misalnya, kalangan Asy`ariyah (hal ini dapat diperhatikan melalui buku-buku karya tokoh-tokoh mereka) justru banyak berkutat dengan konsepsi dan keyakinan tentang keesaan Allah an sich, tanpa banyak terlibat pembahasan tentang tauhid al- ubudiyah al-uluhiyyah yang menjelaskan tentang penghambaan mutlak kepada Allah yang harus bersih dari kesyirikan.[6] Dan masih banyak contoh lain yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya dalam makalah pendek ini.

Usai analisis sekilas tentang Al-Asy`ariyah sebagaimana di atas, barangkali terlintas sebuah pertanyaan mengenai faktor-faktor apa yang menyebabkan firqah ini masih terus eksis dan bahkan bisa disebut paling berkembang dibanding firqah lainnya hingga sekarang?  Salah satu jawabannya barangkali dikarenakan metodologi yang dianut oleh Asy`ariyah memiliki kecenderungan “jalan  tengah” diantara pertentangan ekstrem aliran rasionalisme Mu’tazilah dengan Ahl al-Hadits.

Penyebab lainnya adalah berlimpahnya tokoh-tokoh ulama Asy`ariyah yang memiliki karya-karya besar dan tersebar seperti Abū Bakr al-Bāqillāni (w. 403 H), Ibn Fawrak (w. 406H/1016M), Abū Ishāq al-Isfirāyayni (w. 418H), `Abd al-Qāhir al-Baghdādi (w.429H), Abū Bakr al-Bayhaqi (w. 458H), Imam al-Haramayn Abū al-Ma`āli al-Juwayni (w.478H), al-Ghazāli (w.505H), Al-Shahrastāni (w. 548 H), al-Rāzi (w. 606H), Al-Baydlāwi (w. 680 H), Al-Jurjāni (w.816H) dan lain-lain. Dukungan kekuasaan Bani Seljuk pada waktu itu dan upaya-upaya yang dilakukan Nidzām al-Mulk dengan mendirikan sekolah-sekolah nidzamiyah nya, serta adanya persepsi yang berkembang bahwa Asy’ariyah merupakan representasi madzhab ahlussunah wa al jamaah menjadi faktor pendukung lain yang perlu diperhatikan.[7]


[1] Lihat perkataan Anbadocleus ini dalam Al-Shahrastāni, Al-Milal wa al-Nihal, Beirut, Dar al-Ma’rifah, 1404, Vol. II, hlm. 67

[2] Al-Asy`ari, Istihsan al-Khaudl, 4-9, sebagaimana dikutip oleh M. Abdul Hye, Ph.D, Ash`arism, dalam http://www.muslimphilosophy.com/hmp/14.htm, diakses Mei 2009. Selain Istihsān al-Khaudl, warna rasionalitas Al-Asy`ary juga dapat dilihat dalam bukunya Al-Luma`. Lihat juga: Dr. Ali Abdul Fattah al-Maghribi, Al-Firaq al-Kalāmiyah al-Islāmiyah: Madkhal wa Dirāsah, Kairo, Maktabah Wahbah, 1995,  hlm.271

[3] Perkataan ini disebutkan oleh Ibn Hajar al-`Asqalāni dalam Fath al-Bārī, Kitab al-Iman, Bab Qawl al-Nabi SAW Ana A’lamukum Billah,  Juz I, hlm. 31 (Software Al-Maktabah al-Shamilah 3.24)

[4] Safar al-Hawali, Manhaj al-‘Asya`irah fi l-Aqidah, hlm. 66

[5] Muhamad Sālih Muhamad al-Sayyid, Madkhal ila `Ilm al-Kalām, Kairo, Dār Qubā,  2001, hlm. 273

[6] Lihat misalnya pembahasan Dr. Safar al-Hawali yang cukup panjang lebar tentang hal ini dalam bukunya Manhaj al-‘Asya`irah fi al-Aqidah, hlm. 158-168

[7] Lihat :Dr. Muhamad Sālih Muhamad al-Sayyid, Madkhal ila `Ilm al-Kalām, Kairo, Dār Qubā,  2001, hlm. 271-272

0 Responses to “Al-Asy’ariyah in Brief”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: